Benkek

Bushido Blade 2

Bagi orang-orang yang sempat keranjingan bermain Play Station pada tahun 1998-2000, kemungkinan besar pernah tau game Bushido Blade 2. Game ini di rilis oleh Square Enix pada tahun 1998, sebagai sekuel dari Bushido Blade.


Game ini ceritanya cukup sederhana dan singkat, tentang pertarungan 2 perguruan beladiri, yaitu Shainto dan Narukagami. Namun, pada dasarnya game ini memang menonjolkan sisi Fighting nya, seperti game-game fighting lain pada umumnya (Tekken dll).
Bedanya, kalau di game ini, tidak ada Life Bar, jadi orang bisa mati langsung begitu terkena serangan yang fatal, misal di badan atau kepala. Semua senjata yang dipakai adalah senjata yang umum ditemui pada jaman Edo, dan sangat identik sekali dengan Samurai atau Kendo/Kenjutsu. Karena itulah aku suka game ini ^_^.

Aku akhir-akhir ini sering menghabiskan waktu jaga malamku dengan memainkan game ini. Itung-itung nostalgia :D.

Kemarin cd nya sempat hilang tak tentu rimbanya. Padahal aku kangen sekali main game ini. Akhirnya aku coba order ke Jakarta, tapi sudah tidak ada. Memang game lama sekali sih, jd susah cari Cdnya. Untungnya cdnya akhirnya ketemu.

Char favoritku adalah Tatsumi, dengan Daisô nya, bisa menggunakan 2 pedang. Ada juga Gengoro yang bisa memakai gaya Battou, dengan menggunakan Daisô juga.

Senjata lain yang bisa dipakai; Naginata, Claymore, Nodachi, Broadsword dan Yari.

Berkat adanya ePSXe, aku bisa main game ini di PC. Thanks alot!

Buku Biografi Musashi, siapa sebenarnya Miyamoto Musashi?


Baru-baru ini, saya baru saja selesai membaca biografi Miyamoto Musashi, yang di tulis oleh William Scott Wilson, dengan judul "The Lone Samurai: Kehidupan Miyamoto Musashi", versi Bahasa Indonesia.

Saya rasa, hampir semua pecinta beladiri, terutama beladiri Jepang, kenal dengan nama Musashi, sebagian besar mungkin membaca dari komik, menonton film, ataupun membaca novel Best Seller karya Yoshikawa Eiji.

Salah satu "kelebihan" buku ini dibanding sumber-sumber yang selama ini kita tahu (tepatnya: apa yang saya tahu selama ini), adalah bahwa buku ini mengungkapkan fakta, yang mungkin jauh dari isi Novel Yoshikawa Eiji yang penuh dengan fiksi, ataupun komik-komik dan film-film yang pernah dibuat selama ini.

Buku ini mengungkap mulai dari masa kecil Musashi (yang pada masa kecilnya bernama Bennosuke), bagaimana dia bisa tinggal terpisah dari orang tuanya-- terutama sang ayah; Munisai, teori-teori bagaimana dia bisa begitu kuat hingga bisa membunuh seorang Samurai dewasa ketika dia masih berumur 13 tahun,masa awal pengembaraannya- sebelum akhirnya terdampar di Sekigahara, dan lain sebagainya.

Kita juga bisa mengetahui bagaimana masa-masa Musashi ketika menginjak usia 30 ke atas, yang penuh dengan karya seni yang tidak dibayangkan bisa dihasilkan oleh seorang yang mencurahkan hidupnya untuk belajar ilmu pedang. Bagaimana dia bisa menjadi seorang pengatur taman, perancang kota, penulis syair, pelukis, dan juga pemain drama Noh yang begitu bercita rasa seni.

Satu kesimpulan yang saya ambil dari buku ini, bahwa teknik Gaya Dua Pedang Musashi baru mengalami suatu pengembangan yang pasti ketika dia sudah menginjak usia diatas 30. Jadi ketika masa hidupnya diceritakan dalam Novel Yoshikawa Eiji, teknik Dua Pedangnya belum mencapai tingkat yang bisa dibilang puncak.

Selain itu, mengapa Musashi begitu terkenal dan begitu melegenda, bukanlah hanya karena keahliannya bermain pedang, tetapi karena intelektualitasnya, bakat alaminya yang begitu hebat dalam segala seni, dan juga kemantapan mental dan sikapnya dalam mendalami Zen dan Budhisme.

Seperti kita ketahui, setelah umur 30an, dia hampir tidak pernah menggunakan pedang sungguhan, hanya menggunakan pedang kayu, dan Musashi juga hampir tidak pernah membunuh orang dalam duel-duel yang dilakukannya kemudian. Juga bagaimana dia lebih memilih hidup dalam pengembaraan dari pada menjadi seorang Pejabat Daimyo --yang pastinya penuh dengan harta, kekuasaan dan segala kenyamanan duniawi, seperti yang banyak di inginkan oleh para Ahli pedang jaman itu.

Buku ini juga memaparkan cerita-cerita tentang Musashi dari berbagai sumber, dengan berbagai kontroversi di dalamnya, dan menarik kesimpulan yang kira-kira paling masuk akal, dan memberi gambaran kepada kita, bagaimana pandangan orang-orang terhadap Musashi waktu itu.

Buku ini juga menceritakan banyak tokoh di sekitar Musashi, misal tentang keluarga Yoshioka, sejarah dan perkembangan aliran tersebut sampai dikalahkan oleh Musashi, dan kelanjutan kehidupan mereka setelahnya. Demikian juga dengan Yagyu Munenori dan Shinkage-ryu nya, dan masih banyak lagi, yang akan lebih membuka wawasan kita tentang ilmu beladiri jaman itu.

Buku ini bisa di pinjam di perpustakaan kota Malang secara gratis, tetapi hanya member yang bisa meminjam untuk dibawa pulang.