Benkek

AKu, Hidupku dan BuDo

Sebagian orang yang membaca blog-blogku, baik di friendster maupun blogspot, dan utamanya teman-teman ku di friendster mungkin berfikir, kalau aku ini seorang yang "jago" dalam beladiri, setidaknya mungkin sabuk hitam beladiri tertentu. Tapi sayangnya mereka salah, bahkan aku juga kecewa dengan kenyataan yang sebenarnya.


Aku memang sangat menyenangi BuDo, atau yang dalam terjemahan bahasa indonesia kasar diartikan Beladiri. Tapi ternyata aku hanya sekedar penghobi yang tidak konsisten, tidak kompeten, dan hanya sekedar orang yang banyak berfikir tanpa melakukan apa-apa. Jangankan jago bertarung, sparring yang "serius" aja tidak pernah. Sparring main-mainpun mungkin hanya kurang dari 3 kali (waktu karate dulu).

Saat ini, aku hanya seorang yang baru belajar judo beberapa hari, aikido beberapa bulan, dan juga karate beberapa bulan - sekitar 4 tahun yang lalu. Dalam aikido misalnya, aku bahkan naik ke kyu 3 dengan "terpaksa", karena memang aku merasa belum saatnya. Aku hanya seorang yang sering merasa ragu-ragu dalam bertindak, kikuk, kurang percaya diri, dan kurang punya ketetapan hati, termasuk dalam beladiri, dan juga kehidupanku sehari-hari.

Namun, aku tidak bisa menghilangkan ketertarikanku dengan Budo. Dari kecil aku sudah sangat menyukai beladiri, mungkin karena terlalu banyak nonton film-film aksi.

Saat inipun, aku sering sekali berfikir untuk berhenti dari aikido. Diantara penyebabnya, karena aku merasa tidak cocok dengan beladiri ini, sekian lama aku belajar, ternyata aku masih kalah skill sama anak-anak yang masih baru, sering di marahi Sensei (bahkan sampe di bentak-bentak), sering bingung waktu randori, dll. Bahkan akhirnya aku dengan inisiatif sendiri melepas sabuk cokelatku, dan kembali ke sabuk putih yang sudah aku pakai dari masa SMU dulu. Rasanya aikido benar-benar bukan beladiri yang bisa aku kuasai.

Tapi kalau di pikir lagi, beladiri lainpun aku mungkin belum tentu bisa. Karena kalau di ingat lagi, aku memang orang yang tidak mudah untuk menangkap suatu pelajaran yang bersifat "ketrampilan", aku lebih bisa menggunakan pikiran dari pada tangan, lebih suka berfikir dari pada bekerja. Jadi aku pikir berhenti dari Aikido dan berpindah ke beladiri lain juga bukan suatu hal yang menjanjikan. Akhirnya aku berfikir untuk berhenti sama sekali dari Beladiri, dan konsentrasi pada hobi lain.

Tapi ternyata aku tidak bisa, aku bahkan tidak bisa berhenti latihan di Chatalina, tempat yang pertama kali mengenalkan aku dengan Aikido. Meskipun aku berkali-kali merasa putus asa, kecewa, marah, kesal karena dimarahi Sensei, dan kemudian berniat untuk berhenti, tapi besoknya aku kembali merasa kangen dengan Aikido, dan rasanya aku tidak bisa untuk tidak latihan. Seminggu saja tidak latihan, rasanya benar-benar tidak nyaman.

Akhirnya aku putuskan, kalau memang masih memungkinkan, aku tidak akan berhenti dari Aikido, bahkan kalaupun aku nantinya lebih fokus ke Judo. Saat ini aku memang sedang tertarik dengan beladiri yang merupakan kerabat dekat aikido ini.

0 komentar: