Benkek

(lagi-lagi)Blog ini ditinggalkan pemiliknya

Pindah ke

www.watulawang.co.cc



terima kasih buat semua teman2 yang sempat membaca blog ini. terima kasih juga yang sudah berbaik hati menaruh link blog ini di blog teman-teman smua.

aku sudah bikin blog baru, memang sih blum stable, dan juga mungkin aja nanti bisa down setiap saat, mengingat hosting gratisan :D

tp aku sendiri merasa, blog ku yang ini sudah cukup sampai disini, seiring aku sudah mulai berhenti menggunakan nick Hideyoshi. (sekarang aku lebih suka pake nick Shunichirou, semenjak insiden Friendster, hehe)

Jadi, tolong kunjungi blog saya ya, dan di link juga, ntar di link balik deh :P

'makasih..



Surat Terbuka: Ajakan Dialog Terbuka Dengan Sdr. Roy Suryo

(link asli disini)

Kepada Yth. Sdr. Roy Suryo
ditempat
Perihal: Ajakan Dialog Terbuka Mengenai Perkembangan dan Isu Blogger Indonesia.

Mengingat

Banyaknya aspirasi para blogger yang tertuang dalam blognya masing-masing mengenai ketidaksetujuan atas komentar-komentar Sdr. Roy Suryo di media massa yang cenderung selalu memojokkan blogger.

Menimbang

Perlunya tindakan untuk meluruskan informasi-informasi yang diberikan Sdr. Roy Suryo kepada media massa, khususnya mengenai pandangan negatif Sdr. Roy Suryo kepada blogger.

Memutuskan & Menetapkan

Perlu dilakukannya dialog terbuka dengan Sdr. Roy Suryo mengenai isu-isu yang berkembang saat ini, khususnya isu-isu yang selalu menyudutkan blogger serta informasi-informasi lain yang secara umum cenderung membodohi masyarakat.

Saya mengajak kepada Sdr. Roy Suryo, untuk melakukan dialog terbuka dengan semangat sportifitas untuk saling menerima masukan guna kemajuan perkembangan teknologi informasi Indonesia khususnya perkembangan blogger di Indonesia.

Saya yakin Sdr. Roy Suryo sebagai orang yang sudah diakui pakar dalam bidang Teknologi Informasi bisa meluangkan waktu dan tempat untuk menerima ajakan dialog terbuka ini.

Catatan:

Saya yakin Sdr. Roy Suryo tidak akan mengatakan “tidak tahu” mengenai adanya ajakan dialog terbuka ini. Ajakan dialog terbuka saya posting melalui blog dan insya Allah akan tersebar dengan baik melalui search engine maupun dengan bantuan dari teman-teman melalui blog, milis dan media lainnya. Dengan demikian, saya yang tidak tahu cara menghubungi Anda bisa berharap Anda bisa mendapatkan informasi ini dengan mudah dan cepat. Bukankah ini salah satu keahlian Anda? Mencari informasi mengenai diri Anda atau informasi lainnya di internet.

Salam,

Riyogarta
Website: www.riyogarta.com
Email: me at riyogarta.com
Telp: 0855-100-7204

Kepada teman-teman blogger, wartawan maupun masyarakat luas yang kebetulan mengunjungi blog ini, mohon kiranya bisa turut membantu saya menyebarluaskan surat ini dengan cara:

  • Copy-paste posting ini pada blog masing-masing dengan menyertakan sumbernya.
  • Menyalin link dari posting ini untuk disebarkan melalui blog masing-masing atau email.
  • Mendownload versi PDF dari posting ini untuk disebarluaskan.

Insya Allah apa yang saya lakukan ini bermanfaat bagi kemajuan blogger di tanah air.

Dowload Surat Terbuka: Ajakan DialogTerbuka Kepada Sdr. Roy Suryo

Cuti Patah Hati di Jepang

Pegawai sebuah perusahaan di Jepang dapat mengambil cuti ketika mereka sedang patah hati, putus cinta, atau ditinggalkan pasangan mereka. Perusahaan marketing Hime & Company menyatakan bahwa cuti tersebut diberikan agar pegawainya dapat menangis dan kembali bekerja dengan kondisi yang baik.

Hime & Company CEO Miki Hiradate mengatakan, "Tidak semua orang memerlukan cuti masa hamil namun untuk patah hati, setiap orang memerlukan cuti sama seperti ketika Anda sakit".


Untuk karyawan berusia hingga 24 tahun dapat mengambil cuti jenis ini hanya sekali dalam setahun dan untuk yang berusia di atas 25 hingga 29 tahun diberikan jatah cuti selama tiga hari. Mengenai pembedaan hari cuti tersebut HIradate menegaskan, "Perempuan yang berusia 20 tahunan lebih mudah mendapatkan pasangan namun hal itu cukup sulit bagi perempuan yang telah mencapai usia 30 tahun dan masalah putus cinta mereka juga cenderung lebih serius".

(kopi paste dari http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=850&Itemid=46)

Profil CEo nya:
http://sns.himeclub.com/company/ceoprofile.php

Latihan bersama Sensei Edu

Hari minggu ini, sesuai pemberitahuan sebelumnya dari Senpai Yohan, diadakan Ujian kenaikan tingkat di Shizen Dojo, dan seperti halnya tahun lalu, ujian dilaksanakan di MAC Dojo di Bakorwil.

Kali ini, tidak banyak anak Shizen yang ikut ujian, hanya 5 orang; 4 ambil kyu 5 dan 1 ambil kyu 4.

Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini hanya Sensei Edu yang datang (tahun lalu ada 2 Sensei dari Jogja (Sensei Iwan dan Sensei Teguh), 1 dari Solo (Sensei Bambang Ali), dan 1 dari Jakarta (Sensen Robaga, selaku Ketua Tim Penguji).

Seperti halnya tahun lalu, tahun inipun banyak sekali hal dan pengetahuan baru yang aku dapat dari Latihan bersama Sensei.

Kalau tahun lalu, selain teknik, hal yang paling banyak aku terima dari Para Sensei, adalah tentang pemahaman filosofi dan prinsip dasar dari Aikido, sementara tahun ini, bersama Sensei Edu, aku banyak mendapat pemahaman dan pengetahuan baru tentang Ki.

Hal yang paling berbeda, dibanding pengalamanku selama ini, adalah sewaktu menjadi Uke dari Sensei Edu, rasanya badan benar-benar ringan, serasa melayang. Jadi tanpa sadar kita sudah terbanting, tanpa sempat berontak apalagi melawan. Benar-benar "CLEAR". Luar biasa, aku pikir.

Inti yang aku dapat dari latihan hari ini adalah, bahwa Ki adalah lebih merupakan manifestasi dari pikiran, dibantu dengan badan tentunya.

Ki secara lahir terlihat sangat simpel, mungkin terkesan "pura-pura" atau semacamnya. Tapi setelah dirasakan, ternyata memang benar-benar ada.

Selain itu, aku juga mendapat sedikit pengetahuan tentang Takeda Ryu AIkido, yang selama ini aku tahu dari seorang teman di Friendster.

Terima kasih Sensei Edu atas kedatangannya ke Malang!

Memahami Aikido sebagai sebuah filosofi, bukan sebagai semata-mata beladiri

Ueshiba Morihei menyimpulkan, bahwa semangat budo yang sesungguhnya, tidak ditemukan dalam sebuah nuansa kompetisi dan pertarungan, dimana kekuatan menjadi keunggulan dan kemenangan adalah tujuan akhirnya. Dia menyimpulkan bahwa budo adalah sebuah pencarian dalam mewujudkan diri menjadi manusia sejati, secaraa jiwa dan raga, dengan berlatih secara kumulatif dengan semangat Budo.

Ketika seseorang bertanya, "Aikido itu apa?", bahkan seorang yang sudah mendalami aikido beberapa lama akan mengalami kesulitan dalam menjelaskannya secara langsung. Selain itu, banyak orang yang melihat demonstrasi Aikido pertama kalinya, akan bersikap skeptis dan penuh pertanyaan dan keraguan dengan beladiri ini. Orang-orang tersebut, secara umum terbagi menjadi 2 kelompok.

Kelompok pertama, terdiri dari orang-orang yang mengasumsikan Aikido sebagai seni "membela diri", atau "seni bertarung". Reaksi pertama mereka melihat demonstrasi Aikido, utamanya adalah kecewa, karena mereka mengharapkan untuk melihat pertunjukan "kekuatan", pertarungan, kekerasan, dan mungkin teknik-teknik mematikan. Secara sekilas, dengan keindahan gerakan yang mengalir secara indah, aikido terkesan tanpa kekerasan, bahkan cenderung pasif. Komentar yang sering terdengar: "Semua gerakan terlihat sudah diatur dan direncanakan", "tidak ada perlawanan dari penyerang", "kalau dipake dalam keadaan sebenarnya, itu tidak berguna", dll. Kritik dan komentar tersebut sangat bisa dipahami, dan biasanya terlontar dari anak-anak muda yang menginginkan kemenangan, atau dari orang-orang yang pernah belajar beladiri yang terbiasa dengan teriakan, pukulan, tendangan, teknik-teknik melukai orang yang lain.

Kelompok kedua, adalah orang-orang yang sudah terbiasa dengan beladiri modern, terutama dari segi kompetisinya. Banyak yang berkomentar: "Kenapa dalam aikido tidak ada kompetisi?", Kenapa hanya ada demonstrasi yang membosankan?","Karena tidak adanya turnamen, kita jadi tidak tahu mana yang lebih kuat, mana yang pemula, dan mana yang senior","Tanpa kompetisi, orang tidak akan berlatih secara serius". Sekali lagi, kritik dan komentar mereka bisa dipahami, karena mereka ingin tahu siapa yang lebih hebat tekniknya, atau siapa yang lebih kuat.

Dan, satu komentar yang naif tapi seringkali terdengar, "Bisa tidak orang berkelahi kalau dia tahu Aikido?".

Semua pertanyaan tersebut sebenarnya sederhana dan dangkal, menunjukan ketidakpahaman mereka akan prinsip dasar aikido, dan ketidakpahaman mereka atas karakter utama dari Budo; pelatihan mental/spirit. Bila ada seorang yang tidak punya disiplin diri, ingin pamer kekuatan, dan berlatih aikido untuk hanya bertarung, maka dia sebaiknya berhenti dari Aikido. Tanpa berlatih aikido dengan sunguh-sunguh dan penuh kesabaran, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan pernah bisa terjawab dengan memuaskan.

(to be continued)..